Terperangkap


Seberapa percayakah kau dengan apa yang ada di hadapanmu? Apakah setiap benda, padat, cair, gas yang kaurasakan itu nyata? Apakah tangan ini bergerak sesuai kehendakmu? Kaki ini berdiri menopang tubuhmu kemudian melangkah dan berlari melesatkan anggota badanmu dari satu tempat ke tempat lain. Apakah kaurasakan perpindahan itu? Apakah kaurasakan juga denyut nadi yang selalu memompa darahmu masuk dan keluar dalam jantung membuat kau tetap hidup? Lihatlah di sekelilingmu. Lukisan yang ada di depanmu menatap semu, kursi yang kaududuki, sinar mentari yang meresap hangat, lelaki yang tampan itu, udara yang kauhirup. Apakah semua itu nyata? Atau itu hanya refleksi? Sugesti, alam bawah sadar, hipnotis, semu, maya, entah apalagi sebutan itu. Sekali lagi apakah engkau percaya dengan semua ini?
Monolog-monolog itu selalu menghantui membuat batin ini berperang. Entah apa yang terjadi denganku setelah kejadian satu bulan yang lalu. Aku hanya ingat sebagian kecil detik-detik menjelang kejadian terakhir yang kurekam dalam otak. Ya, kaudatang ingin mengajakku makan malam. Duduk di sofa ruang tengah ketika aku melihatmu dari kamarku yang berada di lantai atas. Gaun yang kupakai ini pemberianmu waktu umurku bertambah satu membuat usiaku berkepala dua. Aku tak sabar, aku berlari menuruni tangga dan...
***

Aku tak tahu suara-suara itu benar-benar meneriaki atau tidak. Sekarang yang kulihat hanya cahaya putih terang, seperti saat tidur dengan lampu yang menyala. Dan suara-suara yang berteriak memanggil namaku—Mary—itu semakin pudar semakin lenyap. Entah aku berada di mana.
***
Gaun yang kupakai masih melekat di tubuhku. Sebuah tepukan di pundakku membuat aku berhenti mencemaskan anggota badanku yang lain. Aku tak apa-apa setelah kusadari semua anggota tubuhku lengkap. Orang yang menepuk pundakku itu masih melekatkan tangannya di bahuku tidak ada dorongan dan tidak ada gerakan yang lain yang membuatku melakukan perlawanan, hanya menepuk. Tepukan yang membuat kaget dan penasaran. Kuputar tubuhku 180 derajat sehingga terpampang jelas siapa orang yang menepukku.
“Apa yang sedang kamu lakukan Mary?” lelaki itu bertanya kepadaku.
“Ah, Dean ... kamu membuatku kaget,” Aku menjawab pertanyaan lelaki yang setahun lalu menyatakan cintanya padaku.
Sebelum aku menyadari itu adalah Dean, ternyata aku berdiri tepat di ruang tengah. Persis ketika Dean menungguku mengajak makan malam di luar. Dean, lelaki tampan dengan kemeja jeans biru donker itu sudah menyambar tanganku menarik tubuhku keluar dari rumah.
***
“Di dunia ini apa yang paling kamu inginkan Mary?”
“Sederhana saja Dean, hidup bahagia. Kamu telah melengkapi kebahagiaan itu.”
“Hmm, andaikan aku ini tidak ada, apakah kamu tetap bahagia Mary?”
“Maka akan berkurang satu kebahagiaanku dan itu menjadi tak lengkap seperti rumah yang tak berpenghuni. Kamu telah mengisi rumah itu Dean.”
Aku tak sepenuhnya menjawab pertanyaan Dean. Aku bahkan tak tahu apa yang kukatakan tadi. Rumah yang tak berepenghuni? Kosong? Demi apa Dean bertanya seperti itu kepadaku? Apakah dia mengujiku seberapa jauh kepercayaanku padanya?
Motor yang kami naiki sampai di sebuah restoran mewah. Lampu besar menggantung di lobby. Hey! Bahkan restoran ini memiliki ruang tunggu. Dari mana Dean tahu restoran ini? Ah, bukan! Ini restoran mewah dan mahal. Dari mana Dean bisa membayar makan malam kami? Dean bukan orang yang kaya. Atau dia memenangkan undian berhadiah? Atau dia merampok di bank? Astaga!
“Dean, kamu serius makan malam di sini?”
“Tentu saja, ini akan membuatmu semakin bahagia bukan?”
Sebelum mulutku mengeluarkan pertanyaan lain, makanan-makanan mewah di hadapanku telah menyita perhatian. Aromanya sedap menusuk hidung membuatku tak sabar mencicipi.
“Makanlah Mary, jarang-jarang ‘kan kita seperti ini?”
Aku hiraukan ucapan Dean, perutku serasa menarik kerongkongan meminta mulutku segera terbuka menelan makanan. Satu dua suap makanan itu masuk ke perut menyumpal lambungku supaya diam. Aneh! Makanan terasa hambar. Tak ada rasa asinnya garam, manisnya kecap, atau pedasnya sambal yang merah menyala. Minuman yang berwarna-warni itu juga sama. Tak ada rasa sedikit pun yang mampir di lidahku. Ada apa ini?  Apakah aku sakit? Sebelum aku menyadarinya, Dean memudar lenyap dari pandanganku. Restoran itu juga tiba-tiba lenyap. Kepalaku berat lalu hanya cahaya putih yang tersisa.
***
Aku terbangun di sebuah ruang. Aku tahu ruangan ini adalah ruang tengah rumahku. Gaun pemberian Dean masih melekat di tubuhku. Kuawasi setiap sudut ruangan dan menemukan Dean berdiri di samping pintu. Dia tak berkata sedikit pun. Wajahnya datar dan memberiku isyarat agar membuka pintu di sebelahnya. Aku berdiri meraih gagang pintu. Kubuka pintu bersama suara engselnya yang sudah rusak. Sebuah tangga menurun menyambut angkuh. Tangga yang sama seperti di lantai atas kamarku berada. Aku tak tahu seperti ada sesuatu yang mendorong sehingga tubuhku dengan keras disambut anak tangga itu. Suara-suara itu berteriak memanggil namaku. Sama persis dengan suara terakhir yang dulu kudengar sebelum cahaya putih itu memudarkan pandanganku.
“Mary! Sadarkan dirimu!”
“Mary! Jangan mati! Sadarlah!”
Terlambat! Cahaya putih itu terang mengaburkan pandanganku. Dean datang lagi menepuk bahuku. Dia bilang ingin mengajakku makan malam.
***

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 komentar:

Posting Komentar